Sri Sultan Hamengkubuwono X - Investasi untuk masa depan

posted Aug 24, 03:00 PM in bahasa tanya jawab

Investasi untuk masa depan

Melalui program Education IT, Sri Sultan berusaha memberdaya gunakan status quo Yogyakarta sebagai kota pendidikan menjadi perintis komputerisasi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tujuannya? Mempersiapkan sumber daya Indonesia untuk bisa lebih bersaing di 20 tahun yang akan datang.

T: Boleh jelaskan sedikit latar belakang program Education IT?

Tantangan masa depan bangsa ini adalah teknologi, IT memberikan nilai tambahan untuk meningkatkan daya saing kita dengan bangsa lain.

Kenapa di mulai dari pendidikan? Karena ini tidak sekedar menopang visi Yogya sebagai kota pendidikan, tapi bagaimana kami mempersiapkan masyarakat Yogya untuk menghadapi tantangan masa depan. Pelajar SD sekarang baru bisa bermanfaat 20 tahun yang akan datang, dan sekarang di kurikulum sekolah, yang menjadi hambatan terbesar oleh sebagian besar siswa adalah pelajaran matematika, biologi, fisika, kimia, ironisnya 4 mata pelajaran inilah yang bisa memberikan nilai tambahan untuk bangsa kita. Melalui infrastruktur Education IT, kurikulum 4 mata pelajaran pokok ini akan disentralisasikan di tingkat provinsi.

Program ini kita selesaikan dalam 4 tahun, dimana 25% biayanya ditanggung oleh Indonesia (sharing pemerintah pusat dan provinsi), sisanya 75% melalui loan dari JBIC (Japan Bank For International Cooperation).

T: Pengguna internet di Indonesia masih sedikit, sedangkan internet tidak terpisahkan dari IT, bagaimana cara memecahkan kendala ini?

Komputer bukan produk republik, tapi merupakan suatu kebutuhan yang harus di adaptasi oleh bangsa ini, artinya kita harus membimbing masyarakat buta komputer menjadi melek komputer. Itu dulu. Kondisinya mirip dengan pemberantasan buta huruf dulu, harus disosialisasikan.

Sekarang banyak orang yang sudah melek komputer; tapi mayoritas hanya sebatas pengganti mesin tik. Ini sangat disayangkan, tetapi merupakan satu proses yang harus kita lalui, dan tidak bisa disalahkan. Langkah selanjutnya adalah bagaimana membimbing pengguna komputer ini untuk bisa lebih dalam menggunakan komputer, menjadi sarana utama di era teknologi informasi.

Kami telah mendidik SDM di pemda propinsi sejak tahun 2000. Dua tahun yang lalu saya membentuk ICB, suatu pusat pendidikan bagi guru-guru yang akan menjalankan program Education IT

Kita Harus membimbing masyarakat buta komputer menjadi melek komputer"Kita harus membimbing masyarakat buta komputer menjadi melek komputer"

T: seberapa banyak bapak menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari?

Kalo saya nggak seberapa banyak. Tapi melalui studi BPS, jumalh pengguna komputer di Yogya mencapai 17% tahun lalu, bahkan banyak hacker pun berasal dari sini. Sedangkan DKI baru 5,3%, dan nasional hanya 3%.

T: Apakah Yogya menjadi pilot untuk project education IT?

Ya. Pilot project untuk nasional, dan juga untuk pemerintah Jepang [melalui JBIC]. JBIC belum pernah memberikan loan di bidang Education IT. Oleh karena itu proyek ini tidak boleh gagal.

T: Apakah blueprint Education IT berlaku untuk umum?

Kalau saya harus menanggung 100% biaya pegembangan, ya patennya saya daftarkan sendiri, tapi kalau pemerintah pusat (Departemen Kominfo) turut membiayai, patennya boleh dipegang mereka. Kalau berhasil, program ini akan diterapkan di provinsi lain.

T: Apakah blueprint ini termasuk jaringan network? Berapa besar backbone internet di Yogyakarta?

Jalur telepon sudah ada disini, tinggal dihubungkan saja. Saya kurang jelas berapa besar, tapi yang pasti selain Telkom, Pro XL juga bangun jaringan.

T: Pertimbangan Jepang untuk memilih Yogya?

Karena Yogya kota Pendidikan, dan program yang kami tawarkan diterima. Saya mendapatkan kemudahan karena Yogya punya hubungan sister province denga Kyoto, yang sudah melaksanakan program Education IT sejak 10 tahun yang lalu. Salah satu bagian dari kerja sama program ini adalah pelatihan guru-guru Yogyakarta untuk Education IT di Kyoto

T: Berapa jumlah sekolah yang akan menerapkan program Education IT?

Tahun 2007 akan ada 100 sekolah, dan direncanakan untuk diterapkan di seluruh SD/SMP di Yogyakarta sebelum tahun 2011 (jumlahnya sekitar 400), selanjutnya diteruskan ke SMA dan Universitas. Khusus untuk di universitas, kami akan menerapkan digital library yang mengkoneksikan perpustakaan daerah dengan kampus-kampus lain.

T: Pesan-pesan bapak untuk ETF?

Pilihan ETF untuk fokus di bidang pendidikan strategis, tetapi pendidikan itu pengertiannya luas, sehingga perlu dispesifikasikan lebih dalam sasarannya. Bagi foundation akan selalu ada keterbatasan dana, kuncinya adalah dengan adanya keterbatasan itu, bagaimana mengarahkan fokusnya supaya bisa memberikan nilai tambahan, misalnya: membuat program recycle komputer bekas, dikumpulkan dan disumbangkan untuk membantu program Education IT. Karena komputer bekas masih bisa digunakan untuk belajar di sekolah.

27 Desember 2006 - Sri Sultan meresmikan 3 SDN di Bantul

Profil Sri Sultan Hamengku Buwono X

Lahir di Yogyakarta, 2 April 1946 dengan nama Bandoro Raden Mas Herdjuno Darpito. Kuliah di fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan ketika dewasa bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo mangkubumi, setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram.

Sri Sultan aktif dalam berbagai organisasi, antara lain menjadi Ketua Umum Kadinda DIY, Ketua DPD Golkar DIY dan Ketua KONI DIY.

Dalam dunia bisnis, beliau menjabat sebagai Direktur Utama PT Punokawan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, selain itu juga menjabat sebagai Presiden Komisaris PG Madukismo.

7 Maret 1989: dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono X

Tahun 1989: menerbitkan Karya Ilmiah “Bercermin Di Kalbu Rakyat”

Tahun 1992: menjabat anggota MPR

Juli 1996: diangkat sebagai Ketua Tim Ahli Gubernur DIY

3 Oktober 1998: menjabat Gubernur DIY, sampai sekarang

November 1998: bersama 3 tokoh nasional lainnya; Megawati, Gusdur, dan Amien Rais menandatangai deklarasi Ciganjur

Tahun 1999: menerbitkan Karya Ilmiah “Bercermin Di Kalbu Rakyat”.

Tahun 2004: menjadi kandidat Presiden Republik Indonesia